Makalah Tentang Insan Kamil

BAB I
PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

  Manusia adalah Sebuah ciptaan yang paling sempurna dibanding ciptaan yang lain, manusia yang dibekali dengan akal dan hati sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil. sungguh sangat unik ketika kita mengkaji manusia karena penuh misteri khususnya dalam hal pencapaian diri atau pencapaian sebagai insane kamil, meskipun hal itu sulit untuk diraih tapi kita pun tidak semudah untuk menyerah, dengan dibekali kelebihan yang ada pada diri manusia maka tidak menutup kemungkinan untuk bisa mencapainya. mengutip pernyataan Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah pengantar (Murtadha Muthahhari, 1994) mengatakan bahwa manusia merupakan miniatur dari alam raya. Jika pada alam raya terdapat tiga tingkat alam yaitu : rohani, khayali, dan jasmani, maka pada manusia ketiga alam tersebut juga terwujud yaitu dalam bentuk ruh, nafs(diri), dan jism (tubuh).

Perlu kita ketahui Insan(manusia) adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan. meskipun dalam prakteknya manusia tidak bisa sempurna tapi kitapun tetap berusah untuk menjadi pribadi-pribadi yang selalu berusaha dan berbuat yang terbaik bagi yang lainya.

1.2. Rumusan Masalah

  1. Jelaskan yang dimaksud dengan Insan kamil?
  2. Bagaimanakah pandangan ulama sufi mengenai Insan Kamil?
  3. Apasajakah Ciri-ciri Insan Kamil?
  4. Bagaimana kriteria dan cara pencapaian agar bisa menjadi Insan Kamil?

1.3. Tujuan

  1. Untuk memenuhi tugas pertama mata kuliah Akhlak Tasawuf
  2. Sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai Akhlah Tasawuf khususnya tentang Insan Kamil
  3. Mengetahui cirri-ciri Insan Kamil
  4. Mengetahui criteria dan cara pencapaiannya

 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Insan Kamil

Kamal atau kamil digunakan untuk sesuatu yang utuh dan rampung, dalam tingkat atau derajat yang lebih tinggi, bahkan dari yang tinggi ini ada yang lebih tinggi lagi dan seterusnya. Kamal atau kamil adalah sifat bagi sesuatu secara vertikal, sedangkan taam adalah sifat bagi sesuatu secara horisontal. Ketika sesuatu telah sampai pada batas akhirnya atau selesai secara horisontal, maka dapat dikatakan telah menjadi ta’am, dan ketika sesuatu itu bergerak secara vertikal, maka ia telah memperoleh kamil.

Insan Kamil secara umum, adalah manusia ta’am yang mulai melangkah secara vertikal, sehingga menjadi kamil, lebih kamil lagi dan seterusnya hingga pada batas akhir kesempurnaan ketika tak seorangpun dapat menjangkau kedudukannya. Manusia yang telah mencapai tingkat itu adalah manusia yang paling sempurna.

Insan kamil atau manusia paripurna dibahas secara khusus oleh para sufi, khususnya Ibnu Arabi dan Abdul Karim Al-Jili. Pengertian insan kamil tidak sesederhana seperti yang selama ini dipahami kalangan ulama, yaitu manusia teladan dengan menunjuk pada figur Nabi Muhammad SAW.
Bagi para sufi, insan kamil adalah lokus penampakan (madzhar) diri Tuhan paling sempurna, meliputi nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah SWT memilih manusia sebagai makhluk yang memiliki keunggulan (tafadhul) atau ahsani taqwim (ciptaan paling sempurna) menurut istilah Alquran.
Disebut demikian karena di antara seluruh makhluk Tuhan manusialah yang paling siap menerima nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Makhluk lainnya hanya bisa menampakkan bagian-bagian tertentu. Bandingkan dengan mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan malaikat tidak mampu mewadahi semua nama dan sifat-Nya.

Itulah sebabnya mengapa manusia oleh Seyyed Hossein Nasr disebut sebagai satu-satunya makhluk teomorfis dan eksistensialis, seperti dijelaskan pada artikel yang lalu. Lagi pula, unsur semua makhluk makrokosmos dan makhluk spiritual tersimpul dalam diri manusia. Ada unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang sebagai makhluk fisik.

Ada juga unsur spiritualnya yang non-fisik, yakni roh. Tegasnya, manusia sempurna secara kosmik-universal dan sempurna pula pada tingkat lokal-individual. Itu pula sebabnya manusia sering disebut miniatur makhluk makrokosmos (mukhtasar al-‘alam) atau mikrokosmos (al-insan al-kabir).

Keparipurnaan manusia diungkapkan pula dalam ayat dan hadis. Dalam Alquran disebutkan, manusia diciptakan paling sempurna (QS. At-Tin: 4) dan satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan “dua tangan” Tuhan (QS. Shad: 75), dan diajari langsung oleh Allah semua nama-nama (QS. Al-Baqarah: 31).

Dalam hadis-hadis tasawuf, banyak dijelaskan keunggulan manusia, seperti, Innallaha khalaqa ‘Adam ‘ala shuratih (Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya). Oleh kalangan sufi, ayat dan hadis itu dinilai bukan saja menunjukkan manusia sebagai lokus penjelmaan (tajalli) Tuhan paling sempurna, melainkan juga seolah menjadi nuskhah atau salinan. Menurut istilah Ibnu Arabi disebut as-shurah al-kamilah.

Manusialah satu-satunya makhluk yang mampu mengejawantahkan nama dan sifat Allah baik dalam bentuk keagungan maupun keindahan Allah. Malaikat tidak mungkin mengejawantahkan sifat Allah Yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima Taubat karena malaikat tidak pernah berdosa.

Tuhan tidak bisa disebut Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima Taubat tanpa ada makhluk dan hambanya yang berdosa, sementara malaikat tidak pernah berdosa. Demikian pula makhluk-makhluk Allah lain yang hanya mampu mengejawantahkan sebagian nama dan sifat Allah. Dari sini sesungguhnya manusia disebut insan kamil.

       Istilah al-insan al-kamil pertama kali muncul dalam literatur islam pada abad VII H/XIII M atas gasan Muhyi al-Din ibnu Arabi (560 H-638 H/1165 M-1240 M). Menurut ibnu Arabi, al-insan al-kamil pada satu sisi adalah manusia sempurna yang menggambarkan citra tuhan secara definitive dan utuh , karena pada dirinya tuhan bertajalli secara sempurna.

2.2. Pandangan Ulama Sufi dalam Permasalahan Insan Kamil

Para sufi meyakini Nabi Muhammad SAW, seperti aqidah yang dianut Ibnu ‘Arobi, adalah satu-satunya makhluk Allah yang telah sampai derajat uluhiyah dan bertahta di ‘arsy Allah SWT dan beliau adalah nur yang darinya tercipta semua ciptaan Allah. Manusia dalam pandangan sufi merupakan pancaran tuhan. Aliran Unionisme adalah aliran yang menganut paham bahwa manusia adalah pancaran dari tuhan dan memiliki sifat-sifat ketuhanan. Manusia atau hamba pada hakikatnya adalah sama dengan tuhan.

Insan Kamil menurut paham Union-mistik ini adalah manusia yang telah sanggup melepaskan ikatan materinya, sehingga memancarlah sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya, dan kehidupannya mencerminkan kehidupan tuhan. Teori tentang insan kamil diperkuat dengan teori asal-usul manusia yang berasal dari pancaran dzat tuhan dan memang bersifat keilahian. Oleh karena itu, insane kamil berarti tuhan yang Nampak.

Abd al-Karim ibn Ibrohim ibn ‘Abd al-Karim bin Khalifah bin Ahmad bin Mahmud al-Jilli (767-826 H/1365-1428 M) yang terkenal dengan teori a- insan al-kamil mengidentifikasikan insan kamil ini dalam dua pengertian.Pertama,dalm pengertian konsep pengetahuan tentang manusia yang sempurna.Kedua,terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama dan sifat-sifat allah kedalam hakikat dan esensi dirinya. Menurutnya, manusia dapat mencapai kesempurnaan keinsaniahnya melalui latihan rohani(riadhoh) dan pendakian mistik(taraqqi).Latihan ini diawali dengan kontemplasi tentang nama dan sifat-sifat allah(hudhur).

2.3. Ciri-ciri Insan Kamil

          Untuk mengetahui ciri-ciri Insan Kamil dapat ditelusuri pada berbagai pendapat yang dikemukakan para ulama yang keilmuannya sudah diakui, termasuk di dalamnya aliran-aliran. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:

 

1.     Berfungsi Akalnya Secara Optimal

 

Fungsi akal secara optimal dapat dijumpai pada pendapat kaum Mu’tajzilah. Menurutnya manusia yang akalnya berfunsi secara optimal dapat mengetahui bahwa segala perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya dan merasa wajib melakukan hal semua itu walaupun tidak diperintahkan oleh wahyu. Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib melakukan perbuatan yang baik. Dan manusia yang demikianlah yang dapat mendekati tingkat insan kamil. Dengan demikian insan kamil akalnya dapat mengenali perbuatan yang baik dan perbuatan buruk karena hal itu telah terkandung pada esensi perbuatan tersebut.

 

2.     Berfungsi Intuisinya

 

Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan berfungsinya intuisi yang ada dalam dirinya. Intuisi ini dalam pandangan Ibn Sina disebut jiwa manusia (rasional soul). Menurutnya jika yang berpengaruh dalam diri manusia adalah jiwa manusianya, maka orang itu hampir menyerupai malaikat dan mendekati kesempurnaan.

 

3.     Mampu Menciptakan Budaya

 

Sebagai bentuk pengamalan dari berbagai potensi yang terdapat pada dirinya sebagai insan, manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu mendayagunakan seluruh potensi rohaniahnya secara optimal. Menurut Ibn Khaldun manusia adalah makhluk berfikir. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Lewat kemampuan berfikirnya itu, manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh  makna hidup. Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.

 

Tetapi dalam kacamata Ibn Khaldun, kelengkapan serta kesempurnaan manusia tidaklah lahir dengan begitu saja, melainkan melalui suatu proses tertentu. Proses tersebut sekarang ini dikenal dengan revolusi.

 

 

4.     Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan

 

Manusai merupakan makhluk yang mempunyai naluri ketuhanan (fitrah). Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan, dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut membuat ia menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Manusia seabagai khalifah yang demikian itu merupakan gambaran ideal. Yaitu manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok masyarakat maupun sebagai individu. Yaitu manusia yang memiliki tanggung jawab yang besar, karena memiliki daya kehendak yang bebas.

 

5.     Berakhlak Mulia

 

Insan kamil juga adalah manusia yang berakhlak mulia. Hal ini sejalan dengan pendapat Ali Syari’ati yang mengatakan bahwa manusia yang sempurna memiliki tiga aspek, yakni aspek kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain ia memiliki pengetahuan, etika dan seni. Semua ini dapat dicapai dengan kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas. Manusia yang ideal (sempurna) adalah manusia yang memiliki otak yang briliyan sekaligus memiliki kelembutan hati. Insan Kamil dengan kemampuan otaknya mampu menciptakan peradaban yang tinggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki kedalaman perasaan terhadap segala sesuatu yang menyebabkan penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.

 

6.     Berjiwa Seimbang

 

Menurut Nashr, bahwa manusia modern sekarang ini tidak jauh meleset dari siratan Darwin. Bahwa hakikat manusia terletak pada aspek kedalamannya, yang bersifat permanen, immortal yang kini tengah bereksistensi sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang teramat panjang. Tetapi disayangkan, kebanyakan dari merekan lupa akan immortalitas yang hakiki tadi. Manusia modern mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar, yang bersifat ruhiyah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan ketentraman batin, yang berarti tidak hanya keseimbangan diri, terlebih lagi bila tekanannya pada kebutuhan materi kian meningkat, maka keseimbangan akan semakin rusak.

 

Kutipan tersebut mengisyaratkan tentang perlunya sikap seimbang dalam kehidupan, yaitu seimbang antara pemenuhan kebutuhan material dengan spiritual atau ruhiyah. Ini berarti perlunya ditanamkan jiwa sufistik yang dibarengi dengan pengamalan syari’at Islam, terutama ibadah, zikir, tafakkur, muhasabbag dan seterusnya.

 

2.4. Kriteria Dan Cara Pencapaian

Menurut Syekh Siti Jenar, insan kamil atau manusia sempurna adalah mereka yang telah memiliki upaya terus-menerus bagi peningkatan dan pembersihan dirinya, yakni mereka yang telah mampu memisahkan dan melepaskan dirinya dari hal-hal keduniaan. Karena memasuki wilayah kemanunggalan, walaupun dalam interaksi fisik kemanusiaan tidak terlepas sama sekali.

Tujuan pembersihan ini ada dua: pertama, untuk mencapai sifat-sifat Allah. Yakni, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang mulia. Tataran ini mengantarkanpelakunya pada jumbuhing kawula Gusti. Kedua, untuk mencapai Dzat Allah. Yakni, mengenal-Nya melalui ma’rifat dan hakikat yang mengantarkan pelakunya kepada pamoring kawula Gusti.

Dzikir akan mengantarkannya kepada nurullah sedangkan seorang mukmin akan melihat dengan nurullah. Dengan daya pancar nurullah itulah seorang mukmin akan menjadi cermin bagi mukmin lainnya. Orang yang berilmu membuat bayangan, tetapi orang ‘arif mengkilaukan cermin hati yang di dalamnya terdapat bayangan hakikat. Apabila mata hati itu bersih berkilauan dan suci, munculah dalam cermin itu berbagai rahasia Allah berupa hakikat yang dicurahkan kepada hati yang bersih berkilauan dan suci.

Apabila cermin hati telah sempurna karena selalu dibersihkan dengan dzikrullah hingga berkilauan, pemilik hati itu akan sampai kepada sifat-sifat Ketuhanan dan mengenal sifat-sifat itu. Hal ini hanya mungkin terjadi bila cermin hati kita telah bersih berkilau.

Insan kamil sendiri diartikan sebagai manusia nan sempurna. Adapun yang dimaksudkan dengan sempurna adalah sempurna dalam ibadah dan penghidupannya. Dan seseorang dapat dianggap sempurna jika ia memiliki kriteria tertentu.
Kriteria tersebut dimiliki oleh manusia-manusia biasa yang mau berusaha untuk menjadi ‘luar biasa’ di hadapan Tuhannya. Mereka—terlepas dari para sufi, dai, ustaz, kai, atau orang biasa sekalipun—pada hakikatnya mampu meneladani segala teladan Rasulullah, jika ia meyakini Allah sebagai Rabb-nya, Alquran sebagai pedoman hidupnya, dan menjadikan Muhammad SAW sebagai sebaik-baiknya insan yang patut diteladani.


 

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

             Insan Kamil artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna.

      Pada dasarnya semua manusia di dunia ini menghendaki dirinya menjadi insan kamil (manusia sempurna) sebagaimana dicerminkan setiap Nabi/Rasul yang berperan sebagai pembawa risalah sekaligus figur atau uswatun hasanah yang mencerminkan salah satu sikap insan kamil. Islam dengan rasulnya sebagai teladan dalam pembentukan akhlak yang mulia telah memberikan konsep yang jelas tentang insan kamil (manusia sempurna) dalam tolak ukur kesempurnaan makhluk.

      Secara garis besar ciri-ciri Insan Kamil dapat dikatagorikan menjadi tiga bagian yaitu: Mampu berkomunikasi dengan Tuhan; Mampu berkomunikasi dengan sesama makhluk; Mampu berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

  • Murtadha Muthahari, Manusia Sempurna, terj. M. Hashem, Jakarta : Lentera, 2003.
  • Natta Abuddin, 2010. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Rajawali pers.
  • Raksa Aji, 2011. Ciri-ciri INsan Kamil. http://ajiraksa.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 September 2013.
  • Pujangga Putra, 2010. Rahasia mencapai derajat insan kamil. http://syechlemahabang.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 September 2013.
  • Suteja, 2011. Teori dasar tasawuf. Cirebon: Nurjati press.

Contoh Makalah Ushul Fiqh-Qiyas

                               

USHUL FIQH

     “QIYAS”

Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur

             Mata kuliah : ushul fiqih

Dosen pengampu  : Drs. A . Syathori, M.Ag

 

 

 

 

Disusun oleh :

  • Aan  munsi aliyafi’ azis (NIM : )
  • Dina  Permatasari (NIM : 1413153054)
  • Hayati (NIM : 1413153065)

 

 

 

MATEMATIKA Ic

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya dalam menyelesaikan makalah ini. kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

 

 

 

 

 

                                                                                    Cirebon, 11 September 2013

 

 

                                                                                                            Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                             

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakanng masalah
                Qiyas merupakan sumber hukum islam yang keempat. Qiyas menurut bahsa atinya ukuran. Menurut istilah qiyas adalah hukum yang telah tetap dalam suatu benda atau perkara, kemudian diberikan kepada suatu benda atau perkara lain yang dipandang memiliki asal, cabang, sifat, dan hukum yang sama dengan suatu benda atau perkara yang telah tetap hukumnya.
                Qiyas juga merupakan suatu cara penggunaan ra’yu untuk menggali hukum syara’ dalam hal-hal yang nash al-Qur’an dan sunnah tidak menetapkan hukumnya secara jelas. Keterkaitan dengan qiyas sangan erat sekali dengan hukum dan sebab.
                Maka, makalah ini menjelaskan tentang qiyas dan seluk-beluk sedikit banyak berupa apa yang dinamakan dengan qiyas.
  2. Rumusan masalah
    1. Apa pengertian qiyas?
    2. Macam-macam qiyas
    3. Kedudukan dan permasalahan qiyas

C.  Tujuan Makalah
             Secara khusus, makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas struktur ataun sebagai persyaratan mata kuliah ushul fiqih.
            Secara umum, makalah ini sedikit banyak membahas tentang qiyas, semoga mendapatkan manfaat dan tambahan pengetahuan tentang qiyas bagi yangn membacanya terutama di kalangan mahasiswa karena makalah ini nanatinya akan menjadi bahan kajian matakuliah Ushul Fiqih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                          iii

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Qiyas

Sebenarnya qiyas merupakan bentuk utama yang di pakai oleh nujtahid dalam upaya mereka berijtihad menemukan hukum dari peristiwa-peristiwa yang hukumnya tidak di sebutkan di nash secara tegas

Kata qiyas menurut etimologi qadr (ukuran,bandingan).sedangkan menurut terminologi qiyas yaitu menyusun peristiwa yang tidak ada nash hukumnya dengan peristiwa yang terdapat nash bagi hukumnya.

Menurut beberapa ulama qiyas dapat di artikan sebagai berikut:

1.Ibnu as-subki

Qiyas ialah menyamakan hukum sesuatu dengan hukum sesuatu yang lain  Karena ada kesamaan ‘illah hukum mujtahid yang menyamakan hukumnya.

2. Al-amidi

Qiyas adalah keserupaan antara cabang dan asal pada ‘illah hukum asal menurut pandangan mujtahiddari segi kemestianterdapatnya hukum (asal) tersebut pada cabang.

3. Wahbah az-zuhaili

Qiyas ialah menghubungkan suatu masalah yang tidak terdapat nash syara’ tentang hukumnya dengan suatu masalah yang terdapat nash hukumnya, karena adanya persekutuan keduanya dari segi ‘illah hukum.

Meskipun defenisi qiyas dari beberaopa ulama berbeda beda, tetapi pada hakikatnya sama, dimana dari beberapa definisi tersebut mengandung unsur unsur qiyas yaitu: al-ashl (dasar, pokok), al-far’u (cabang), hukum ashl, dan ‘illah.

 

  1. Al-ashl (dasar, pokok)

Yang  di maksud dengan al-ashl ialah segala sesuatu yang telah di tetapkan ketentuan hukumnya berdasarkan nash,baik nash tersebut berupa al qur’an maupun al hadits.

Dalam kata lain maqis ‘alaih (yang diqiyaskan atasnya). Al-ashl juga memiliki beberapa persyaratan yaitu:

  1. Al-ashl tidak mansukh, artinya hukum syara’ yang akan menjadi sumber pengqiyasan masih berlaku pada masa hidup rosulullah.
  2. Hukum syara’. Persyaratan ini sangat jelas dan mutlak, sebab yang hendak ditemukan ketentuan hukumnya melalui qiyas adalah hukum syara’ bukan ketentuan hukum yang lain.
  3. Bukan hukum yang di kecualikan. Jia al-ashl ini merupakan pengecualian, maka tidak dapat menjadi wadah qiyas.

 

                                                                                                                                                1

2. Al-far’u (cabang)

Adapun yang di maksud dengan al-far’u ialah masalah yang hendak di qiyaskan yang tida ada ketentuan nash yang menetapkan hukumnya. Dalam kata lain maqis. Al-far’u juga memiliki beberapa persyaratan yaitu:

  1. Sebelum di qiyaskan tidak ada nash lain yang menentukan hukumnya.
  2. Adanya kesamaan antara ‘illah yang terdapat dalam al-ashl dan yang terdapat dalam al-far’u
  3. Tidak ada dalil qhat’i yang kandungannya berlawanan dengan al-far’u.
  4. Hukum yang terdapat pada al-ashl bersifat sama dengan hukum ang terdapat dalam al-far’u.

 

3. Hukum Ashl

yang dimaksud hukum ashl ialah hukum yang terdapat dalam masalah yang ketentuan hukumnya ditetapkan oleh nash tertentu, baik dari al-qur’an maupun al-hadits. Hukum ashl juga memiliki beberapa persyaratan yaitu:

  1. Hukum tersebut adalah hukum syara’,
  2. ‘illah hukum tersebut dapat di temukan, bukan hukum yang tidak dapat dipahami ‘illah nya.
  3. Hukum ashl tidak termasuk dalam kelompok yang menjadi khushusiyah rosulullah.
  4. Hukum ashl tetap berlaku setelah wafatnya rosulullah,bukan ketentuan hukum yang sudah di batalkan.

 

4. ‘illah

yang di maksud dengan ‘illah ialah suatu sifat yang nyata dan berlaku setiap kali suatu peristiwa terjadi, dan sejalan dengan tujuan penetapan hukum dari suatu peristiwa hukum.

 

C. Macam-macan qiyas

a.      Qiyas aula (qiyas ini dinamai juga awlawi, qiyas qhat’i) yaitu suatu qiyas yang ‘ilatnya itulah yang mewajibkan hukum.atau dengan kata lain sesuatu qiyas hukum yang diberikan kepada pokok lebih patut diberikan kepada cabang. Contoh qiyas tidak boleh memukul orang tua, kepada tidak bolenya kita mengucapkan perkataan yang menyakitkan hatinya, kepada orang tua.  Hukum “tidak boleh” ini lebih patut diberikan kepaada memukul.daripada dihukumkan kepada mengucapkan perkataan yang menyakitkan hatinya.

b.     Qiyas musawi yaitu suatu qiyas yang ilatnya mewajibkan hukum. Atau mengqiyaskan sesuatu keapada sesuatu yang bersamaan kedua-duanya yang patut menerima hukum tersebut. Umpamanya: menjual harta anak yatim diqiyaskan kepada memakan harta anak yatim.

                                                                                                                                               2

c.      Qiyas adna atau qiyas adwan yaitu mengqiyaskan sesuatu yang kurang patut menerima hukum yang diberikan kepada sesuatuyang memang patut menerima hukum itu. Contoh mengqiyaskan apel pada gandum dalam hal berlakunya riba fadhal karena keduanya mengandung ‘ilat yang sama yaitu sama-sama jenis makanan

d.     Qiyas al-‘aksi, tidak adanya hukum karena tidak adanya ‘ilat atau menetapkan lawan hukum sesuatu bagi yang sepertinya karena keduanya itu berlawanan tentang hal ‘ilat.

e.      Qiyas assabri wa taqsim, qiyas yang ditetapka ‘ilatnya sesudah dilakukan penelitian dan peninjauan yang lebih dalam.

 f. Qiyas Dalalah,  yaitu qiyas yang ‘ilatnya tidak disebut tetapi merupakan petunjuk yang menunjukan adanya ‘ilat untuk menetapkan sesuatu hukum dari sesuatu pristiwa.

g. Qiyas fi ma’nal ashli, yaitu qiyas yang tidak dijelaskan washaf (sebab ‘ilat) yang mengumpulkan antara pokok dan cabang didalam mengqiyaskan itu

 h. Qiyas al-ikhalati wal munasabati,  yaitu qiyas yang jalan menetapkan ‘ilat yang dipetik dari padanya (yang dikeluarkan dengan jalan ijtihad), ialah munasabah, yakni kemaslahatan memelihara maksud (tujuan)

i. Qiyas ‘ilat, yaitu membandingkan sesuatu kepada yang lain karena kesamaan ‘ilatantara keduanya membandingkan hukum minuman yang memabukkan kepada       khamar.

 

D. Kedudukan Qiyas dalam islam

   Dalam peranannya pada agama  islam, qiyas sebagai hujjah (sumber hukum) islam yang keempat setelah al-Qur’an, al-hadist, dan ijma’. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa qiyas merupakan salah satu proses ijtihad, maka Imam Syafi’i mengatakan bahwa ijtihad itu sesungguhnya adalah mengetahui jalan-jalan qiyas. Oleh sebab itu, mujtahid harus mengetahui tentang qiyas dengan benar serta memungkinkan mujtahid untuk memilih hukum asal yang lebih dekat dengan objek.

Firman Allah SWT:

صَارِبــْـاْلاَ لىِ اُوْ يَـآ فَـاعْــتَــبِــيْــرُوْا  
“hendaklah kamu mengambil I’tibar, hai orang-orang yang berfikiran”

Hadist Nabi SAW :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ « كَيْفَ تَقْضِى إِذَا

عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ ». قَالَ أَقْضِى بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى كِتَابِ اللَّهِ ». قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ فِى كِتَابِ اللَّهِ ». قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِى وَلاَ آلُو. فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَدْرَهُ وَقَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِى رَسُولَ اللَّهِ »

Sesungguhnya Rosulullah SAW ketika beliau hendak mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bertanya :, “Dengan cara apa engkau menetapkan hukum seandainya kepadamu diajukan sebuah perkara? Mu’adz menjawab : “Saya menetapkan hukum berdasarkan Kitab Allah”. Rasul  bertanya lagi : “Bila engkau tidak menemukan hukumnya dalam Kitab Allah?” Jawab Mu’adz, “Dengan Sunnah Rasul”, Rasul bertanya lagi : “Jika dalam Sunnah juga engkau tidak menemukannya?”, Mu’adz menjawab : Saya akan menggunakan ijtihad dengan nalar (ra’yu) saya. Rasul bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq atas diri  utusan dari Rasulullah dengan apa-apa yang diridhoi Rosul-Nya”.

 

Selain kriteria dalam dali-dalill di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh mujtahid :

  1. Mengetahui seluruh nash yang menjadi dasar hukum asal beserta illatnya untuk dapat menghubungkan dengan hukum furu’(cabang).
  2. Mengetahui aturan-aturan qiyas dan batas-batasnya, seperti tidak boleh mengqiyaskan dengan sesuatu yang tidak bisa meluas hukumnya, serta sifat-sifat illat sebagai dasar qiyas dan faktor yang menghubungkan dengan furu’.
  3. Mengetahui metode yang dipakai oleh ulama salafyang shaleh dalam mengetahui illat-illat hukum dan sifat-sifat yang dipandang sebagai prinsip penetapan dan penggalian hukum fiqih.

Seorang mujtahid harus mengetahui syarat-syaratnya yang mu’tabar , karena hal ini menjadi kaidah ijtihad dan sebagai alat yang dapat mengantarkannya sampai pada hukum-hukum yang rinci.

Namun, jika kita tilik sumber lain maka akan terdapat sedikit perbedaan dalam kehujjahan qiyas ini karena ternyata para ulama masih banyak yang berbeda pandangan mengenai kehujjahan ini, berikut yang telah diringkas :

  1. Jumhur ulama Ushul, mereka tetap menganggap qiyas sebagai dalil hukum berlandaskan surat Al-Hasyr : 2 diatas dan An-Nisa : 59 yang mana surat ini terdapat urutan pengambilan hukum, yaity menaati Allah (hukum dan Al-Qur’an), Rasulnya (hukum dan sunnah), dan mentaati pemimpin (hasil ijtihad para ulama), serta para jumhur ulama ini juga mengambil rujukan sumber hukumnya berdasarkan peristiwa Muadz bin Jabal ketika akan diutus menjadi qodhi di Yaman.
  2. Sebagian ulama Syiah dan segolongan dari ulama Mu’tazilah seperti An-Nazzamjuga ulama Dzaririyah tidak mengakui qiyas sebagai hujjah. Alasannya karena semua peristiwa sudah ada ketentuannya dalam Qur’an dan sunnah baik yang yang ditunjukkan nash dengan kata-katanya atau pun tidak seperti syarat nash (hukum yang tersirat). Karena itu kita tidak memerlukan qiyas sebagai hujjah.
  3. Al-Kuffalusysyasyi, dari Syafi’iyah dan Abdul Hasan Al-Bishri dari mu’tazilah, keduanya berpendapat bahwa hukum melalui qiyas wajib kita lakukan secara agama atau syari’at.

Alasan madzab ketiga iniseperti juga alas an pada madzhab pertama tadi, yakni berdasarkan dalil-dalill dan dialog Muadz dengan Rasul sewaktu akan dikirim menjadi qodhi di Yaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                5

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

            Qiyas adalah menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dengan sesuatu yangn lain yang terdapat nash baginya.

            Meskipun banyak yang berbeda pendapat, meyoritas jumhur ulama mengatakan bahwa qiyas merupakan hujjah (sumber hukum islam) yang ke empat setelah al-Qur’an, hadist, dan ijma’. Bahkan Imam Syafi’I telah menhatakan bahwa ijtihad itu sesungguhnya adalah mengetahui jalan-jalan qiyas.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          Amin Suma, Muhammad. 2002. Ijtihad Ibnu Taimiyah. Jakarta : Pustaka Firdaus

–          Umam, Chaerul. 2000. Ushul Fiqih 1. Bandung : Pustaka Setia

–          Baltaji, Muhamma. 2005. Metodologi ijtihad Umar Bin Khatab. Jakarta : Khalifa

–          Abdullah, Sulaiman Haji. 1996. Dinamika Qiyas Dalam Pembaharuan Hukum Islam. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                6